Minggu, 24 Oktober 2010

"Ini Kepala Polisi Baru Kami, Seorang Wanita yang Belum Lulus Kuliah..!"





"Senjata yang kita miliki adalah prinsip-prinsip hak kesamaan dan nilai-nilai, yang merupakan senjata terbaik untuk mencegah kejahatan."


Ada seorang kepala polisi baru di perbatasan Meksiko yang penuh dengan kekerasan dimana kartel obat bius telah membunuh para pejabat publik dan membuat takut banyak warganya. Ia adalah seorang wanita berusia 20 tahun yang belum tamat menyelesaikan pendidikan kriminologi nya.

Marisol Valles Garcia, mahasiswi, ibu satu anak, yang baru saja dilantik untuk membawa hukum dan ketertiban ke kota dengan populasi penduduk sekitar 8.500 orang. Kota yang telah berubah dari wilayah dengan mayoritas masyarakat petani yang tenang ke negeri tanpa hukum. Kepala polisi pendahulunya ditembak mati pada bulan Juli 2009. Setelah setahun kekosongan terjadi, karena tidak ada yang berani untuk menjadi kepala polisi, akhirnya Marisol naik mengisi posisi yang lelaki saja tidak mau, di kota bagian utara Meksiko tersebut.

Praxedis G Guerrero, kota yang memang dikenal sangat berbahaya karena praktis di bawah kuasa dua kartel obat bius, yaitu Juarez dan Sinaloa. Dua geng saingan ini telah ”berjuang” untuk mengendalikan jalan raya tunggal, sebuah rute perdagangan obat yang menguntungkan di sepanjang perbatasan Texas.

Garcia yang beparas ayu dan enerjik yang hanya berpengalaman bertugas sebagai sekretaris departemen kepolisian ini mengatakan, ia menginginkan 13 nya petugas untuk membantunya menjalankan tugas. Ia berencana untuk mempekerjakan lebih banyak wanita (dia saat ini memiliki tiga) dan menetapkan masing-masing petugasnya di tiap lingkungan di kota tersebut untuk melakukan pendekatan yang berbeda. Pendekatan yang ia lakukan adalah berkomunikasi lebih dengan keluarga/ penduduk, mempromosikan nilai-nilai hak sipil dan mendeteksi potensi kejahatan sebelum terjadi.





Metode yang sangat sederhana yang ia terapkan: "Tim kami diluar sana akan bekerja dari rumah ke rumah untuk mencari penjahat. Dan apabila tidak terdapat indikasi tindak kejahatan disitu, kami akan berusaha untuk mengajarkan nilai-nilai yang berharga kepada keluarga itu.." katanya dalam penampilan resmi pertamanya. "Pekerjaan ini ... sederhana, didasarkan atas nilai-nilai, prinsip dan pencegahan kejahatan di tiap rumah.."

Garcia menugaskan dua pengawal tetapi mereka tidak akan membawa senjata. Dia akan menyerahkan keputusan untuk kebijakan penggunaan senjata dan taktik kepada walikota, Jose Luis Guerrero.

Dia tidak menjawab pertanyaan mengenai alasan mengapa dia melakukan pekerjaan itu. Bahkan ketika banyak orang meragukan kapasitasnya.

Tapi Guerrero telah meminta usulan warga tentang bagaimana cara membuat kota lebih aman, dan saat itu juga ia menjadi sangat menyukai Garcia. Guerrero menawarkan pekerjaan kepala polisi kepada Garcia dan Garcia pun tidak menolaknya. Garcia menerima pekerjaan itu karena rasa cintanya akan kota yang telah ia tempati selama 10 tahun.





Apakah keputusan nya adalah berani atau nekat, penunjukan menunjukkan bagaimana putus asa situasi telah menjadi di Lembah Juarez. Penduduk setempat mengatakan, geng-geng obat terlarang biasa berkonvoi malam-malam di kota dengan mobil jenis SUV ataupun pikap, dengan menenteng senapan serbu dan bahkan senapan jitu kaliber 50.
Seorang asisten wali kota dekat El Porvenir dan Wali Kota Distrito Bravos baru saja dibunuh, bahkan setelah mereka berlindung di dekat Ciudad Juarez.
Para bos kartel narkoba di sejumlah tempat di Meksiko membunuh dan menyerang para kepala polisi beserta anak buahnya, atau "membeli" mereka.

"Mari berharap, ini bukan tindakan sembrono dia," ujar Miguel Sarre, professor yang mendalami soal penegakan hukum Meksiko, di Autonomous Technological Institute of Mexico. "Polisi kota tidak dapat melindungi dirinya dari kekuatan besar seperti itu (kartel obat)." Dua tahun lalu, sebanyak delapan petugas berhenti karena ketakutan dan hanya menyisakan tiga orang ketika Valles Garcia mengambil alih. Ia mempekerjakan 10 dan berencana untuk menambah lima anggota baru.

Presiden Meksiko Felipe Calderon mengakui, masalah yang dihadapi polisi yang bahkan perwiranya saja hanya bergaji 4.000 peso atau sekitar Rp 2,8 juta per bulan.

"Di sini, semua orang takut, dan apa pun yang dapat dilakukan untuk menghilangkan rasa takut akan sangat baik," kata Fidel Vega, seorang karyawan SPBU 46 tahun. "Anda dapat melihat bahwa gadis ini memiliki keinginan untuk menyelesaikan sesuatu." Katanya lagi dengan nada optimis.

Teman-teman bloggers, tidak mudah memang untuk bisa membuat suatu perubahan pada sebuah komunitas/ kelompok. Tetapi seringkali kunci untuk mengubah sesuatu yang keliahatannya sulit diubah adalah dengan cara menanamkan dan melakukan hal-hal yang bersifat sederhana. Selamat hari senin.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Journal (MOVIE) Wallstreet, (Are You Sure) Money Never Sleeps..




"A fisherman always sees another fisherman from afar."


Ceritanya dimula dengan bebasnya Gordon Gecko (Douglas), seorang multijutawan yang sangat kaya lewat investasi saham. Gordon yang baru saja keluar penjara, namun tidak seperti tahanan lain yang bebas hari itu. Tidak ada seorangpun yang menjemputnya. 20 bergerak ke waktu 20 tahun kemudian, saat putri dari Gecko yang sedang dimabuk asmara dengan Jake Moore (Lebouf). Seorang pialang perdagangan saham yang bekerja di wallstreet.

Konflik terjadi manakala Moore kehilangan bos sekaligus mentornya yang bunuh diri akibat menurun drastisnya harga saham perusahaan tempat Moore bekerja. Diduga musuh mentornya, Bretton Woods (Josh Brolin)lah yang menyebabkan ia bunuh diri. Konflik lain terjadi lagi saat Gecko dengan kerakusannya, mengambil seluruh uang putrinya senilai 100 juta USD yang sedianya akan di investasikan oleh Moore kedalam industri blue energy.

-------------------------------------------------------------------------------------

Satu hal yang membuat saya ingin sekali menyaksikan film ini sejak awal kemunculan teaser-posternya sekitar awal 2010 lalu, adalah situasi perdagangan bursa wallstreet yang sangat hectic, sangat 'jahat', bahkan bagi beberapa orang sangat nggilani.

Gecko seperti halnya dunia investasi, adalah dunia keji yang tidak mengenal belas kasih. Semua tertuju pada satu pencapaian saja: Uang yang sangat banyak. Saya bisa katakan, film Wallstreet 2: Money Never Sleeps berhasil meraih rasa penasaran saya - entah dengan yang lain - karena kembalinya Douglas, dan karena rasa rindu saya akan industri bursa dan layar yang menunnjukkan angka dan grafik-grafik.

Dan saya berani bertaruh, alasan lebih banyak orang menyaksikannya karena Shia, aktor muda 24 tahun yang sukses dengan block-busters movienya.

Karena sejujurnya, dunia perdagangan saham adalah dunia yang tidak terlalu diminati begitu banyak kalangan terpelajar dan awam.

Sejujurnya juga saya tidak mendapat apa yang saya ekspektasikan saat menonton film ini. Saya tidak mendapat greget yang sama ketika menyaksikan Wall Street pertama yang juga diperankan oleh Douglas dan Charlie Sheen, yang nyata-nyata justru memberikan inspirasi dan alasan lebih untuk ada di industri itu.

Wallstreet 1 dan 2 sama-sama memberikan satu nilai: Keluarga jauh lebih penting dan ketimbang gelimangan harta. Hanya saja, wallstreet 2 ini tidak memberikan gambaran yang saya inginkan tentang sekuelnya. Kurang wallstreet. Terlalu humanis. Terlalu menampakkan sisi kemanusiaannya ketimbang "stock-passion"nya. Satu kejutan yang tak terduga, munculnya Buddy Fox (Sheen) dalam sekuel ini sambil berkata: "So, does Blue Horseshoes still Loves Annacott Steel?" membuat saya sedikit terkekeh. Kalimat dari film pertama yang selalu saya ingat: "As much as I wanted to be Gordon Gekko... I'll always be Bud Fox.."


Anyway, check out this coolest picture about Oliver's Stone's Wallstreet, the old and new ones.




Aktor-aktris utama "Money Never Sleeps"





Dua generasi berbeda dari Wallstreet





















Wall Street, dulu dan kini



Gecko, different hair colour, different style, different year, same greed.







Nah, sekarang saya punya pertanyaan. Jika dua orang ini ditandingkan, siapa kira-kira yang akan menang ya..? :)




Jadi, saran saya adalah, jika Anda memiliki waktu lebih untuk sebuah film yang bersinggungan dengan dunia keuangan, sambil dibumbui oleh nilai kekeluargaan, film ini boleh dijadikan pilihan -sepanjang Anda tidak membandingkannya dengan yang pertama-. Tetapi, jika Anda menyaksikan film ini hanya untuk melihat imut-imutnya wajah Shia Lebouef dan berharap mendapatkan sensasi yang sama dengan Transformer ataupun Disturbia, lupakanlah film ini.

Selasa, 28 September 2010

Virginity?

Hari ini begitu mencengangkan. Setelah sekian lama tidak olahraga, saya akhirnya memulai pagi ini dengan berolahraga lagi. Meski agak berat untuk memulai bangun, tapi ternyata bisa. Ternyata menyenangkan dan menggairahkan.

Siangnya juga menarik. Setelah hampir dua minggu tidak mengkonsumsi nasi (dalam rangka hari berbahagia di bulan desember), akhirnya di'hajar' oleh satu paket hemat nya Hoka-Hoka Bento beserta nasinya tentunya. Kelenjar-kelenjar saya rasanya berdenyut lebih aktif dari biasanya.

Hari ini juga, rasanya untuk pertama kalinya saya mengetahui. Anggota Legislatif yang menuai kontroversi dengan idenya untuk melakukan tes keperawanan. Tes keperawanan yang idenya dilakukan sebelum memasuki sekolah menengah. Ide yang terus terang membuat alis saya berkerut dan memicingkan mata.

Tes keperawanan.

Legislatis sekarang ini memiliki banyak sekali ide-ide yang sangat belum berguna (kalau tidak mau dikatakan tidak penting). Rumah aspirasi, dana aspirasi, gedung baru, sekarang tes keperawanan.

Kenapa ya di jaman sekarang ini pejabat senang sekali mengurusi hal-hal yang ada diluar kewenangan mereka sebagai wakil publik..?

Kenapa ya tingkat akhlak selalu dikaitkan dengan maju tidaknya suatu negara..?

Kenapa ya sulit sekali bagi legislatif itu untuk melihat bahwa mereka mestinya bisa menjembatani situasi masyarakat saat ini kedalam masyarakat yang maju tanpa harus mengurusi hal-hal yang personal..?

Terlalu banyak orang yang ingin mengubah dunia ini. Beberapa diantaranya (beruntung) memiliki kewenangan untuk membuat keputusan dan peraturan dan akhirnya mengintervensi kepentingan yang bersifat sangat privat.

Teman saya mengatakan, itu hanyalah sudut pandang. Sudut pandang yang berbeda. Dengan segala kerendahan hati dan sebal, saya mencoba memposisikan diri kedalam pemikiran bahwa "kalo engga perawan, negara bobrok".

Saya percaya bahwa konsep negara yang kuat, dasar negara yang solid, berawal dari rasa kecintaan terhadapnya. Rasa kecintaan yang akan di-break down ke dalam langkah konkrit dengan memanfaatkan segala bentuk potensi yang ada, dengan saling menghargai setiap perbedaan yang ada.

Saya yakin dan percaya bahwa lebih banyak wanita di eropa dan amerika yang tidak lagi perawan, tapi bisa menjadi negara adidaya yang kuat secara fundamental.

Semoga legislatif itu ingat bahwa studi banding justru mereka lakukan ke negara-negara yang pahamnya 'virginity is not that important'.

Maling yang Bertobat

Alkisah di suatu malam di sebuah gubuk, terdapat seorang biksu yang sedang bermeditasi. Di tengah meditasinya, ia dikejutkan oleh seorang maling yang menerobos masuk kedalam rumahnya. Dengan sedikit gugup, si maling menodongkan sebilah pisau pada si biksu.

"Serahkan hartamu..!"

Biksu tersebut menatap tajam si maling. Tersenyum lalu berkata:

"Uangnya ada di dalam lemari. Ambillah yang kamu butuhkan. Tolong sisakan sedikit untukku."

Maling tersebut mengambil uang di lemari sambil terkekeh-kekeh.

"Jangan lupa ucapkan terima kasih atas apa yang orang lain berikan padamu." Kata biksu tadi masih dalam posisi meditasi.

"Terima kasih yaaa..!" Balas si maling sambil ngeloyor pergi.

Tak berapa lama, si maling pun tertangkap oleh beberapa patroli keamanan yang sedang berjaga. Polisi patroli membawa si maling ke tempat biksu untuk dimintai keterangan.

"Ini maling yang merampok rumah bapak khan?" Tanya si polisi.

Biksu tersenyum: "Tidak.. Tidak.. Aku memberikan uangku dan ia juga mengucapkan terima kasih."

Maling tersebut terperanjak, ia menangis sejadi-jadinya dan sejak saat itu menjadi murid biksu.

Mungkin banyak diantara kita yang merasa sulit atau tidak nyaman untuk melakukan hal-hal bijak yang besar. Semesta mempunyai hukum untuk setiap insan didalamnya.

Akan selalu ada ganjaran untuk setiap hal kecil yang kita lakukan. Ganjaran yang mungkin tidak pernah kita duga darimana datangnya.

Tetaplah berbuat baik teman, supaya alur hidup kita dikelilingi oleh hal-hal baik sekalipun awalnya menyakitkan untukmu.

Selamat pagi.

Minggu, 26 September 2010

Agus dan Agus



Sebelumnya selamat atas dipilihnya Laksamana Agus Suhartono menggantikan Jenderal TNI Djoko Santoso sebagai Pangliima TNI setelah melalui kepatutan dan kelayakan yang digelar Komisi I DPR dan telah diangkat resmi dalam Rapat paripurna DPR, Senin (27/9)

Tuntutan tugas baru menanti Agus terutama untuk lebih memperhatikan peta kekuatan TNI di wilayah-wilayah yang rawan terjadi konflik dan perebutan kepemilikan seperti wilayah-wilayah perbatasan RI dengan malaysia.

Laksamana TNI Agus Suhartono menjadi calon tunggal Panglima TNI yang akan menggantikan Jenderal TNI Djoko Santoso. Dalam perjalanan karirnya, ia pernah menjabat sebagai Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat. Lalu sebagai Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan. Terakhir menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut yang ke 22 dari 2009 hingga sekarang.

Sumber Berita Lampung: Profile dan Biodata Laksamana Agus Suhartono |Terkini

Dengan terpilihnya Agus, berarti Indonesia memilih dua pejabat penting negara bernama Agus di tahun 2010 ini. Agus Martowadojo terlebih dulu dipilih menjadi menteri Keuangan pada medio 2010 lalu.

Kedua Agus ini memiliki tugas yang sama, yaitu memberikan kestabilan dan kekuatan lebih kepada negara Indonesia. Agus yang satu memainkan peranan dalam peraturan keuangan negara dan fiskal, sementara Agus yang lain dalam ranah pertahanan NKRI dalam konteks penjagaan secara harafiah. Sementara Agus yang satu datang dari kalangan profesional perbankan, Agus yang baru ini datang dari kalangan internal Tentara Nasional Indonesia.

Sejatinya semoga kedua Agus dapat memberikan kontribusi lebih terhadap NKRI.

Penunjang Kemandirian Daerah





Indonesia terus berbenah. Fokus negara untuk mensejahterakan masyarakatnya secara kasat mata dapat terlihat, meskipun mungkin kondisi sesungguhnya yang membentuk gunung es. Akan tetapi, dari sektor pembenahan ekonomi, kalangan pelaku pasar manapun kelihatannya sudah dapat tersenyum (selama tidak melulu dikaitkan dengan situasi politik atau dipolitik-kannya ekonomi negara kita).

Ketua Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia terpilih, Suryo Bambang Sulisto (SBS), dalam keterangan tertulisnya mengatakan:

“(Ekonomi) Indonesia bisa menjadi yang terbesar ketiga di Asia, setelah China dan India. Karena itu, Kadin dalam periode kepemimpinan saya jika terpilih akan mengobarkan semangat probisnis,” bebernya.

Oleh karena itu, untuk membantu mewujudkannya, pihaknya akan mengajak para pengusaha, akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan ekonomi nasional yang tangguh melalui peningkatan ekonomi daerah.

Dikatakannya, pertumbuhan ekonomi daerah akan dilakukan melalui beberapa program, yakni meningkatkan jumlah entrepreneur (wirausaha) menjadi empat juta dan adanya edukasi.

Selaras dengan itu, Komite Ekonomi Nasional, organisasi baru yang berada langsung dibawah presiden, dengan chiefnya Chairul Tanjung sudah memiliki rekomendasi untuk baiknya roda perekonomian Indonesia di masa yang akan datang.

Secara lebih spesifik, Rhendal Kasali mengungkapkan bahwa saat ini, sekitar 90,8 juta penduduk Indonesia bekerja pada sektor informal. Jumlah tersebut tersebar pada sekira 50,7 juta jenis usaha informal yang umumnya merupakan usaha "kaki lima" dalam berbagai bidang mulai makanan hingga tekstil. Jadi sekitar 36% masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya terhadap industri ini. Kelihatannya industri ini merupakan industri yang luput dari perhatian pemerintah.

Fokus pemerintah membangun kekuatan daerah sebenarnya perlu untuk didukung, terlebih dengan adanya wacana untuk melakukan perampingan PNS agar alokasi dana untuk pembenahan infrastruktur dan reformasi APBD bisa lebih besar lagi. Yang saat ini perlu dipertanyakan adalah mengenai Grand Design pembenahan dan pembangunan daerah ini dan keterpaduannya dengan sektor-sektor yang ada.

Kita semua tahu, bahwa baik buruknya kinerja suatu organisasi itu berdasarkan atas kualitas sumber daya manusia nya. Otonomi daerah betapa tidak, memang dapat dijadikan acuan untuk mengetahui masih manja atau mandirinya daerah tersebut. Ketika kita berbicara SDM, tentu saja tidak terkait dengan jumlah.

Pekerjaan Rumah pemda sebenarnya adalah memberikan persiapan kepada sumber daya manusia yang ada di wilayahnya dengan selalu menggunakan acuan/ arahan yang datangnya dari pusat. Saat sumber daya sudah terbangun, pengelolaan wilayah dan manajemennya serta kontrolnya akan menjadi sangat independen dan tidak bergantung lagi kepada pusat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemandirian daerah saat ini masih disokong pusat, dan laju pertumbuhannya banyak dikontribusikan oleh pengusaha-pengusaha. Pengusaha bertindak tentu saja sesuai denganh regulasi yang diberikan oleh pemerintah setempat. Untuk memompa jumlah investor dan pengusaha yang datang, pemerintah wajib untuk memberikan kemudahan-kemudahan bagi mereka dalam berekspansi.

Sayangnya situasi saat ini yang terjadi di beberapa daerah adalah belum kondusifnya iklim usaha dan investasi. Pengusaha daerah masih banyak menemukan pungli-pungli, sulitnya akses pasar, dan lainnya. Padahal peran serta putera daerah sebagai pengembang amat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas daerah tersebut.

Jangan dilupakan juga, bahwa semangat ekonomi kerakyatan perlu dijaga dan dikembangkan sambil terus dikonsolidasikan dengan pengusaha/ pengembang agar terjadi sinergisitas antara pelaku pasar, regulator, dan pasar.

Saat kondisi seperti ini sudah terjadi, peran pemerintah pusat dapat terus dideviasikan sehingga alokasi anggaran dapat dipindahkan untuk pengembangan sektor atau konsep-konsep baru untuk mendukung pemberdayaan masyarakat/ daerah yang masih tertinggal.

Sabtu, 25 September 2010

Cilliandra Fangiono, Milyarder Muda Indonesia Usia 33 Tahun

Direktur sekaligus chief executive director First Resources, Ciliandra Fangiono untuk pertama kalinya masuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.

Ciliandra yang baru berusia 33 tahun ditaksir Forbes memiliki kekayaan US$ 710 juta atau sekitar Rp 6,75 triliun dan berada di peringkat 18 dalam daftar tersebut. Sementara pemilik Sinarmas Grup Eka Tjipta Widjaja tercatat sebagai jutawan tertua dalam daftar tersebut. Dalam usia ke-86, Eka Tjipta memiliki kekayaan sekitar US$ 2,4 miliar .

Forbes menulis, nilai kekayaan 40 orang terkaya Indonesia meningkat tajam selama tahun 2009 menjadi US$ 42 miliar dari tahun 2008 yang hanya US$ 21 miliar. Tingginya permintaan sumber daya alam produksi Indonesia telah meningkatkan kekayaan para milyuner tersebut secara cepat.

Lebih dari sepertiga dari daftar tersebut meraup kekayaannya dari sektor batubara, CPO dan migas. Termasuk 3 dari 5 pendatang baru dalam daftar tersebut. Salah satunya adalah Ciliandra Fangiono.

Forbes dalam edisi tentang orang terkaya Indonesia yang dikutip detikFinance, Kamis (3/12/2009) menjelaskan, Ciliandra yang merupakan pimpinan First Resources kini mengelola sekitar 247.000 hektar lahan CPO.

Ciliandra bersama para saudaranya termasuk saudaranya laki-lakinya Cik Sigih memiliki 74% saham First Resources. Perusahaan tersebut didirikan oleh ayah Ciliandra, Martias. Namun Martias telah melepaskan keterlibatannya di perusahaan tersebut sejak tahun 2003.

Untuk masuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia ini, para jutawan tersebut harus memiliki kekayaan minimal US$ 240 juta atau sekitar Rp 2,28 triliun. Berikut 40 orang terkaya di Indonesia versi Forbes:

   1. R. Budi & Michael Hartono  US$ 7 miliar
   2. Martua Sitorus     US$ 3 miliar
   3. Susilo Wonowidjojo  US$ 2,6 miliar
   4. Aburizal Bakrie     US$ 2,5 miliar
   5. Eka Tjipta Widjaja  U$S 2,4 miliar
   6. Peter Sondakh  US$ 2,1 miliar
   7. Putera Sampoerna  US$ 2 miliar
   8. Sukanto Tanoto  US$ 1,9 miliar
   9. Anthoni Salim US$  1,4 miliar
  10. Soegiharto Sosrodjojo  US$ 1,2 miliar
  11. Low Tuck Kwong  US$ 1,18 miliar
  12. Eddy William Katuari US$ 1,1 miliar
  13. Chairul Tanjung US$ 99 juta
  14. Garibaldi Thohir US$ 930 juta
  15. Theodore Rachmat US$ 900 juta
  16. Edwin Soeryadjaya US$ 800 juta
  17. Trihatma Haliman US$ 750 juta
  18. Ciliandra Fangiono US$ 710 juta
  19. Arifin Panigoro    US$ 650 juta
  20. Murdaya Poo US$ 600 juta
  21. Hashim Djojohadikusumo    US$ 500 juta
  22. Kusnan & Rusdi Kirana US$ 480 juta
  23. Prajogo Pangestu US$ 475 juta
  24. Harjo Sutanto US$ 470 juta
  25. Mochtar Riady    US$ 440 juta
  26. Eka Tjandranegara    US$ 430 juta
  27. Ciputra    US$ 420 juta
  28. Hary Tanoesoedibjo    US$ 410 juta
  29. Sandiaga Uno    US$ 400 juta
  30. Boenjamin Setiawan    US$ 395 juta