Senin, 28 November 2011

Kelola Resikomu





Hedging. Nama yang sudah cukup familiar dalam dunia investasi forex dan saham utamanya. Artinya adalah lindung nilai, dalam artian melindungi nilai investasi yang sudah kita tanamkan dengan harga yang disesuaikan. Hedging ini, yang pada jaman saya kemarin, cukup bisa dijadikan barang jualan instrumen investasi.

Seperti sudah kita ketahui - ataupun mungkin belum, yasudah, saya saja yang memberitahu-, perekonomian di zona Eropa saat ini memasuki fase keterpurukan kloter kedua. Kloter pertamanya beberapa bulan kemarin, dimulai dari Yunani. Efek kartu domino nya mulai menjalar. Beberapa negara Eropa sekarang terkena imbasnya. Bukan tidak mungkin menghajar belahan dunia lain. Menghajar Indonesia. Tergantung dari tingkat ekspor kita kesana sebenarnya. Dilihat dari data Ekspor Indonesia versi BPS, dari Agustus ke September, telah mengalami penurunan. Baik migas dan non migas.

Memang kita ekspor apa sajakah kesana ya?

Banyak. Berdasarkan golongan barangnya, beberapa diantaranya adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati/ hewani, karet, bijih, kerak dan abu logam, peralatan elektronik dan lainnya. Semua bisa dilihat disini.

Jadi rasanya, seperti berada di pinggir pantai, melihat sebuah ombak besar bergulungan berkejaran yang siap menghempaskan kita, dan siapa saja yang menghadang lajunya. Lucunya, ombak ini bukannya hal yang tidak bisa dikendalikan, tapi merupakan buah karya manusia juga.


Dalam tulisannya di kolom Majalah Fortune Indonesia, Kepala Analis Bursa Efek Indonesia, Poltak Hotradero menyatakan, dalam situasi jual panik (panic-selling) seperti ini, diperlukan ketenangan dan pemahaman yang mendalam bahwa: ada hal yang lebih esensial lagi dibalik pergerakan dan volatilitas angka-angka tersebut. Yakni adalah fundamental. Kinerja perusahaan yang biasanya jarang diperhatikan karena kita sibuk mempertahankan, menjaga uang yang sudah ditanamkan.

Kita lupa yang esensialnya.

Sama halnya dengan yang terngiang di pikiran saya. Mengenai penurunan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia yang mengalami penurunan posisi IPM dari 108 di 2010 menjadi 124 di tahun 2011.

Sementara itu jor-joran perencanaan, penggunaan, pengawasan, penggelontoran ratusan trilyun APBN untuk membangun infrastruktur sebagai salah satu upaya mutlak menggerakkan perekonomian - yang merupakan salah satu faktor penentu IPM - juga tetap dilakukan di tengah gejolak dan mosi optimisme dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemangku kepentingan negeri ini.


Apa iya harus seperti itu? Apa iya lindung nilai (hedge) IPM terlalu sulit untuk kita lakukan karena intervensi politis yang terlalu besar, sementara Bank Sentral di Eropa mengemukakan bahwa kebijakan politislah yang bisa mengeluarkan mereka dari situasi krisis ekonomi Zona Eropa saat ini?

Siapa yang salah? Siapa yang harus bertanggung jawab?

Ah ya tidak baik saling menyalahkan. Bukan salah siapa-siapa. Bukan salah siapa-siapa juga kok jika akhirnya Google dan RIM, batal membuka kantornya di Indonesia. RIM, penyedia handset Blackberry itu malah membuka kantor di Malaysia, yang jelas-jelas pengguna handsetnya hanya sepersepuluh dari pengguna smartphone negeri ini.

Bukan salah siapa-siapa yah, pemerintah hanya mau memastikan konsumen menerima yang terbaik, dengan cara membuat regulasi-regulasi yang menguntungkan konsumen. Itu hanyalah resiko pekerjaan. Resiko keputusan untuk menjawab entitas dan kebutuhan yang majemuk. Rasanya sudah waktunya kita berbenah diri lebih baik lagi demi kepentingan 200 juta jiwa lebih penduduk negeri ini. Sudah waktunya kita belajar mengelola resiko dengan lugas dan tegas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar